SEKILAS INFO
  • 2 bulan yang lalu / Menerima penyaluran Zakat, Infaq dan Shodaqah Masjid Ainul Yaqin Unisma
  • 2 bulan yang lalu / Dengan cara menyalurkan dari Bank atau bisa langsung Hubungi  0878-6575-4050 (Mustaqim)
WAKTU :

Pemuda Di era Milenial

Terbit 24 Agustus 2020 | Oleh : Masjid Ainul Yaqin Unisma | Kategori : TAUSIYAH
Pemuda Di era Milenial

Berbicara tentang pemuda di era milenial harus belajar dari sejarah sumpah pemuda. Karena dengan belajar sejarah sumpah pemuda bisa menumbuhkan semangat gotong royong dan nasionalisme. Kebangkitan pemuda Indonesia nampak di awal abad 20.

Sejarah mencatat pada tahun 1900 pemerintahan Hindia-Belanda menerapkan kebijakan balas budi kepada pribumi dengan mengadakan pendidikan di Indonesia. Akan tetapi tidak semua pribumi merasakan pendidikan itu dikarenakan mahalnya biaya pendidikan.

Hal itu menjadikan pribumi semakin terbelakang, termiskinkan, tertindas dan terbodohkan oleh penjajah. Sehingga pada tahun 1908 Dr. Soetomo membangun pendidikan dengan gratis yang dinamakan Budi Utomo sebagai wujud kepedulian terhadap pribumi yang semakin tertindas.

Tahun 1920 pendidikan pribumi itu diteruskan secara formal oleh Ki Hajar Dewantara dengan mendirikan Taman Siswa.

Apa yang dilakukan oleh Dr. Soetomo dan Ki Hajar Dewantara itu membangkitkan semangat kebangsaan dan persatuan untuk melakukan perlawanan Belanda yang pada akhirnya pada 28 Oktober 1928 lahir sumpah pemuda yang di motori oleh pemuda-pemuda dari berbagai kepulauan di Indonesia yang memiliki komitmen untuk mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia.

Dan puncaknya 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka dari penjajahan belanda dan sekutunya.

Di hari sumpah pemuda ini, Lima hal yang selayaknya  dilakukan pemuda era milenial: Pertama, Semangat pemuda era milenial jangan sampai pudar dan jangan sampai termanjakan oleh dunia sosial media. Jika pemuda disibukkan urusan pribadi niscaya menurunkan kepekaan sosial.

Para founding father sudah berjuang memerdekakan NKRI dari penjajahan. Tugas pemuda sekarang melanjutkan tonggak estafet cita-cita bangsa yang termaktub dalam UUD 1945 dan nilai-nilai pancasila.

Kedua, Kemajemukan suku, budaya, ras dan agama yang kita miliki jangan sampai menjadikan permusuhan antar sesama pemuda. Pelangi menjadi indah karena berbeda warna, coba kalau pelangi hanya satu warna, akan beda ceritanya.

Dengan berbagai keberagaman di Indonesia tidak mengapa melakukan sumpah ulang untuk megakui satu tanah tumpah darah, yaitu Indonesia dan satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia, serta menjunjung satu bahasa, yaitu bahasa Indonesia. Bukan zamannya lagi tawuran antar pemuda karena perbedaan.

Ketiga, Di zaman milenial ini pemuda harus saling mendukung dan menjalin komunikasi untuk menggerakkan potensi di daerah masing-masing. Merawat nilai kebangsaan yang sudah tertanam lama. Bukan menghujat, mencaci maki dan menjatuhkan antar pemuda.

Penulis teringat pesan Kholifah Ali bin Abi Thalib r.a. kepada kedua putranya Hasan dan Husain setelah beliau diserang Abdurrahman bin Muljam dengan pedangnya: “Berpegang teguhlah dengan ikatan ketakwaan kepada Allah SWT, mengatur baik segala urusanmu bersama dan selalu mengusahakan perbaikan hubungan silaturahim antara kamu semua”.

Khalifah yang dijuluki babul ilmi (pintunya ilmu) itu juga berpesan kepada kedua anaknya bahwa Rasulullah bersabda”Memperbaiki hubungan antara sesama sanak kerabat lebih utama daripada kebanyakan sholat dan puasa”.

Pesan khalifah Ali ini mengajarkan kita tidak hanya mengenal saudara saja, tapi juga memperbaiki sikap sesama pemuda Indonesia. Bersikap toleran, menjaga keseimbangan, nasionalis, menerima perbedaan, dan semangat kerjasama itu merupakan sikap memperbaiki hubungan antar sesama.

Keempat, pemuda semestinya kreativitas dan inovatif. Negara lain sudah lari dengan mobil listriknya kita masih disibukkan dengan sikap Pak Sandiaga Uno kenapa memakai sepatu kets?

Negara lain sudah menciptakan mobil tanpa sopir, kita masih saja disibukkan dengan sentimen antar golongan keagamaan.

Kelima, menjadi pemuda di era milenial seharusnya berani mandiri. Selalu nyatakan dalam diri kita “apa yang kuberikan kepada negara, dan jangan berfikir apa yang diberikan negara kepada kita?” itulah pemuda sejati.

Menggali potensi yang dimiliki pemuda untuk memajukan sektor ekonomi, pendidikan, pariwisata, budaya dan sosial. Yang nantinya bangsa ini akan diperhitungkan oleh negara lain.

Semoga pemuda era milenal selalu menjadi generasi yang selalu menginspirasi. Selamat hari sumpah pemuda. (*)

Oleh: Yoyok Amirudin*
Penulis adalah Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Islam Malang

 

Repost dari sumber

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/159798/pemuda-di-era-milenial

SebelumnyaMensyukuri Nikmat kemerdekaan SesudahnyaBelajar Menulis Dari Para Kyai

Berita Lainnya