SEKILAS INFO
  • 2 bulan yang lalu / Menerima penyaluran Zakat, Infaq dan Shodaqah Masjid Ainul Yaqin Unisma
  • 2 bulan yang lalu / Dengan cara menyalurkan dari Bank atau bisa langsung Hubungi  0878-6575-4050 (Mustaqim)
WAKTU :

Ekstrimisme Di Tengah Pandemi Covid-19

Terbit 7 September 2020 | Oleh : Masjid Ainul Yaqin Unisma | Kategori : TAUSIYAH / Uncategorized
Ekstrimisme Di Tengah Pandemi Covid-19

Di tengah pemerintah dan rakyat melawan pandemi virus covid-19 atau corona, masyarakat di hebohkan dengan adanya tindakan ancaman kekerasan oleh kelompok teroris di Sulawesi yang terindikasi berafiliasi dengan ISIS (Islamic State in Irad and Syuriah). Dan kejadian pemakaman 2 (dua) orang pembunuh polisi di Poso, disitu muncul bendera ISIS dan diikuti ratusan simpatisan yang sedang viral videonya. Ini pertanda bahwa benih-benih ekstrimisme dan terorisme masih mengakar kuat di Indonesia.

 

Kejadian ini menyayat hati siapa saja, bukankah Indonesia agama Islam terbanyak di dunia, hajinya paling banyak di dunia, dan penghafal al Quran. Disamping itu Islam Indonesia terkenal dengan sikap moderat dan ramah. Terbukti beberapa kegiatan keagamaan selevel dunia diadakan di Indonesia. ini membuktikan Indonesia menjadi kiblat dalam mengimplementasikan Islam rahmatan lil Alamin. Terkenal dengan meramu kebhinekaan dan multikulturaslime, Indonesia tetap damai. Namun, kini tercoreng oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam namun sikapnya jauh dari ajaran agama Islam.

Apapun dalihnya ancaman di Sulawesi dan bendera ISIS di Poso tidak dibenarkan. Mereka mengeluarkan pekikan takbir untuk melawan pemerintahan yang dianggap thogut dan kafir bagi kelompok ekstrimis. Peilaku ini secara agama dan kebangsaan tidak dibenarkan. Pemaknaan jihad yang salah menyebabkan mereka salah arah. Dengan dalih hakimiyah la hukma illallah (tidak ada hukum kecuali hukum Allah) menghalalkan segala cara, bahkan dengan lantang melawan pemerintah.

 

Dalam sejarah, sikap ekstrimis terbesar setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW adalah fitnah khawawrij yang mengkafirkan Khalifah Ali karamallahu wajhah, Muawiyah dan dua orang hakim yaitu Abu Musa Al Asy’ari dan ‘Amr bin Ash.  Pada akhirnya Khalifah Ali terbunuh di tangan seorang khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam yang kesehariannya ahli ibadah, ahli shalat, suka berpuasa, dan penghafal al Quran. Dan saat ini kita bisa menemukan penerus Abdurrahman bin Muljam orang yang hafal al Quran, berjenggot dan berjubah namun mengkafirkan orang lain. Fenomena ini persis hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Al Bukhori dalam Shohihnya: “Akan muncul di tengah-tengah kalian kaum yang shalat kalian kalah dengan shalat mereka dan puasa kalian kalah dengan puasa mereka dan amal kalian kalah dengan amal merea, mereka membaca al Qur’an tidak sampai melewati tenggorokan, mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat menembus sasarannya.” Artinya mereka melenceng dari ajaran agama yang sudah ia tekuni selama ini.

Syekh Dr. Thareq Lahham menulis buku Rihlah at Tatharuf min at takfir ila at tafjir (Petualangan terorisme dari Pengkafiran sampai Pengeboman) mengartikan ekstrimis adalah kecondongan dalam pemikiran dan tindakan sampai pada ujung paling kanan atau kiri. Ekstrimis itu sebuah penyakit yang hanya mengenal penyimpangan dan keluar dari kaidah yang diatur oleh syara’. Ciri ekstrimis itu cenderung melakukan aksi kekerasan yang brutal. Mereka tidak takut terhadap pihak-pihak keamanan pemerintah yang berupaya menghadang mereka. Bahkan mereka justru menyambut  terjadinya front dengan pihak-pihak keamanan.

Allah mengingatkan kepada hambanya dalam Surah Al Maidah: 77 “La taghlu fi dinikum” (janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dalam agama kalian). Dalam syair dikatakan hubbub at tanahi syathat khoirul umuri al wasath (Mencintai sikap berlebihan itu adalah melewati batas, sebaik-baik perkara adalah yang tengah.  Banyaknya kasus radikalisme agama yang terjadi terlalu berlebih-lebihan dalam beragama. Sehingga muncul sikap fanatisme, dan fanatisme membutakan kebenaran orang lain. Milton Rokeach dan Jean Pierre seorang psikologi agama menyatakan  fanatisme dan eksklusivisme adalah penyakit kekakuan mental beragama yang disebabkan oleh doktrin dogmatis. Sehingga mengkaburkan kebenaran diluar lingkungannya, menutup keterangan dari pihak lain.

 

Adanya sikap ekstrimis ini dikarenakan pemahaman agama yang salah kaprah. Pemaknaan jihad yang jauh dari makna aslinya. Bagi mereka jihad diartikan menegakkan agama Islam dengan cara berperang, melawan pemerintah yang dianggap thogut dan kafir. Padahal mencari ilmu itu jihad fi sabillillah, merawat anak istri juga jihad fi sabilillah, melawan kebodohan dan kemiskinan juga bagian dari jihad fi sabilillah.

Agama Islam melarang keras untuk saling mengkafirkan satu sama lain, lebih-lebih membunuh sesama manusia. Dalam agama Kristen Paus Fransiscus ketika berkunjung ke Afrika karena ada konflik Muslim dan Krsiten menyatakan kekerasan dan kebencian yang mengatasnamakan Tuhan adalah sama sekali tidak dibenarkan.

Dalam kondisi seperti ini pemerintah melakukan bisa mengadakan program deradekalisasi secara massif, dengan tujuan untuk netralisasi ideologi radikal. Program deradekalisasi ini tidak hanya untuk bagi mereka yang tertangkap kasus terorisme namun juga keluarganya. Lebih dari itu deradekalisasi juga bermakna reideologisasi, seharusnya menjadi program yang ditujukan kepada masyarakat sehingga mampu mendeteksi sejak dini atas potensi bahaya dan ancaman ideologisasi yang disebarkan simpatisan gerakan radikal.

 

Penulis: Yoyok Amirudin, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI), Universitas Islam Malang (UNISMA), aktif pada Kajian.

Pernah di terbitkan di Times Indonesia

SebelumnyaBelajar Menulis Dari Para Kyai SesudahnyaHijrah Untuk Keutuhan Bangsa

Berita Lainnya